Pages

Sunday, August 16, 2026

Gelar yang Tidak Dipakai?

Ada satu pertanyaan yang mungkin suatu hari akan saya dapatkan:

“Sudah S2 Fakultas Hukum, jurusan Kenotariatan di Universitas Indonesia, kok sekarang gelarnya tidak dipakai?”

Kalau ditanya seperti itu, saya mungkin akan menjawab:

“Sebenarnya dipakai. Hanya saja, tidak selalu dalam bentuk yang terlihat dari profesi saya.”

Saya kuliah S1 Hukum di Universitas Gadjah Mada.

Bagi saya, UGM bukan sekadar tempat untuk mendapatkan gelar Sarjana Hukum. Ada sesuatu yang lebih membekas dari pengalaman belajar di sana: semangat kerakyatan dan pengabdian kepada masyarakat.

UGM dikenal sebagai kampus kerakyatan. Salah satu pengalaman yang sangat menggambarkan semangat itu adalah program Kuliah Kerja Nyata (KKN), ketika mahasiswa turun langsung ke desa, berinteraksi dengan masyarakat, melihat persoalan mereka dari dekat, dan berusaha memberikan kontribusi melalui ilmu yang dimiliki.

Dari sana saya belajar bahwa pendidikan tinggi seharusnya tidak membuat seseorang semakin jauh dari masyarakat.

Sebaliknya, semakin tinggi pendidikan seseorang, seharusnya semakin besar pula kemampuannya untuk memberdayakan masyarakat.

Saya belajar bahwa ilmu tidak hanya untuk membuat kita pintar.

Ilmu seharusnya membuat kita berguna.

Dan saya belajar bahwa menjadi berpendidikan bukan berarti harus selalu mencari tempat di pusat-pusat kekuasaan atau meninggalkan kampung halaman.

Kita juga bisa berdaya di negeri sendiri dan memberikan manfaat di tempat kita berasal.

Setelah menyelesaikan S1, saya melanjutkan pendidikan S2 di Fakultas Hukum Universitas Indonesia, jurusan Kenotariatan.

UI adalah salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia. Lingkungan akademiknya memberikan pengalaman yang berbeda.

Di sana saya banyak berhadapan dengan persoalan yang menuntut ketelitian, argumentasi, dan kemampuan melihat sesuatu secara sistematis.

Awalnya saya berpikir bahwa hal utama yang saya dapatkan dari program Kenotariatan adalah ilmu perancangan kontrak.

Tentu saja ilmu itu saya dapatkan.

Saya belajar bagaimana menyusun suatu perjanjian dengan memperhatikan hak dan kewajiban para pihak, kemungkinan risiko, konsekuensi hukum, serta berbagai persoalan yang mungkin muncul di kemudian hari.

Tetapi setelah saya menjalani kehidupan dan pekerjaan setelah kuliah, saya justru menyadari bahwa ada satu hal yang mungkin lebih penting yang saya bawa dari sana:

cara berpikir yang logis dan kritis.

Ketika menyusun kontrak, kita tidak bisa hanya berpikir, “Yang penting pasalnya ada.”

Kita harus bertanya:

Apa masalah yang ingin diselesaikan?

Apa kemungkinan yang akan terjadi?

Apa konsekuensinya?

Bagaimana jika salah satu pihak tidak memenuhi kewajibannya?

Apakah satu ketentuan bertentangan dengan ketentuan lainnya?

Apakah sistem yang kita buat benar-benar masuk akal?

Cara berpikir seperti itu ternyata tidak hanya berguna ketika membuat kontrak.

Cara berpikir itu saya bawa ke dalam bisnis.

Saya belajar melihat bisnis bukan hanya sebagai kegiatan jual beli.

Saya mulai melihat bisnis sebagai sebuah sistem.

Ada produk.

Ada orang.

Ada proses.

Ada keuangan.

Ada standar kerja.

Ada risiko.

Ada tanggung jawab.

Semuanya harus saling terhubung secara logis dan terstruktur.

Selain pendidikan formal, saya juga merasa bahwa salah satu hal penting dalam perjalanan saya adalah orang-orang yang saya temui selama kuliah.

Saya tidak hanya kuliah, pulang, kemudian mengulang rutinitas yang sama.

Saya banyak bergaul dengan orang-orang yang, menurut saya, saleh.

Dari pergaulan itu saya belajar bahwa keberhasilan tidak semata-mata diukur dari gelar, jabatan, penghasilan, atau seberapa tinggi posisi seseorang.

Ada hal yang lebih mendasar:

kejujuran, amanah, tanggung jawab, dan bagaimana seseorang menjalani kehidupannya di hadapan Allah.

Dan mungkin tanpa saya sadari, semua pengalaman itu akhirnya bertemu dalam kehidupan saya sekarang.

Hari ini saya memilih menjadi seorang business owner.

Saya membangun bisnis dengan berusaha membuat sistem yang logis dan terstruktur.

Saya tidak ingin bisnis hanya berjalan karena semuanya bergantung kepada saya.

Saya ingin ada sistem yang bisa dijalankan.

Ada standar kerja yang jelas.

Ada pembagian tugas.

Ada pencatatan.

Ada evaluasi.

Ada perbaikan.

Dan ada orang-orang yang bisa berkembang bersama bisnis tersebut.

Di sinilah saya merasa bahwa semangat yang dulu saya dapatkan dari UGM kembali menemukan bentuknya.

Kalau dahulu mahasiswa turun ke desa untuk belajar sekaligus mengabdi kepada masyarakat, hari ini saya ingin memberikan manfaat melalui bisnis yang saya bangun.

Saya ingin memberdayakan masyarakat di kampung halaman saya, Pekanbaru.

Salah satu caranya adalah dengan membuka lapangan pekerjaan.

Saya ingin merekrut orang-orang yang jujur dan bertanggung jawab.

Bukan hanya orang yang mampu bekerja, tetapi orang yang memiliki karakter yang baik.

Saya juga ingin lingkungan kerja yang saya bangun tetap menghargai kewajiban agama. Bagi saya, karyawan yang bekerja dengan baik sekaligus menjaga shalat lima waktunya adalah sesuatu yang sangat berharga.

Karena bagi saya, membangun bisnis bukan hanya tentang bagaimana membuat bisnis semakin besar.

Ada manusia yang terlibat di dalamnya.

Ada kehidupan yang ikut bergantung pada bisnis tersebut.

Dan kalau bisnis yang saya bangun dapat memberikan penghasilan yang halal, membuka kesempatan kerja, melatih seseorang menjadi lebih bertanggung jawab, serta membantu seseorang tetap menjaga kewajibannya kepada Allah, maka saya merasa bisnis itu memiliki nilai yang lebih dari sekadar keuntungan.

Kalau direnungkan kembali, perjalanan pendidikan saya ternyata tidak benar-benar terpisah dari kehidupan saya sekarang.

UGM mengajarkan saya untuk tidak melupakan masyarakat.

Semangat kerakyatan dan pengalaman pengabdian melalui KKN membuat saya melihat bahwa ilmu seharusnya memiliki hubungan dengan kehidupan nyata masyarakat.

UI mengajarkan saya untuk berpikir lebih tajam, logis, kritis, dan sistematis.

Sementara itu, pergaulan dengan orang-orang yang menurut saya saleh mengajarkan bahwa ilmu dan pekerjaan tetap harus memiliki nilai dan arah yang benar.

Semua itu kemudian saya bawa ke dalam dunia bisnis.

Maka ketika seseorang bertanya,

“S2 Kenotariatan kok tidak menjadi notaris?”

atau,

“Kuliah hukum sampai S2, kok malah jadi pengusaha?”

Saya tidak merasa harus menjelaskan bahwa pendidikan saya sia-sia.

Justru saya merasa sebaliknya.

Mungkin inilah salah satu bentuk penggunaan ilmu yang saya dapatkan.

Saya menggunakan cara berpikir hukum untuk membangun sistem.

Saya menggunakan cara berpikir kritis untuk mengambil keputusan.

Saya menggunakan kemampuan menyusun sesuatu secara sistematis untuk menjalankan bisnis.

Dan saya membawa semangat kerakyatan itu untuk berusaha memberikan manfaat kepada masyarakat di kampung halaman sendiri.

Pada akhirnya, mungkin pendidikan memang tidak selalu membawa kita ke profesi yang tertulis di ijazah.

Karena pendidikan yang baik bukan hanya mengajarkan kita “akan menjadi apa”, tetapi juga membentuk kita menjadi “orang seperti apa.”

Saya kuliah hukum.

Saya belajar kontrak.

Saya belajar kenotariatan.

Tetapi ternyata yang paling saya bawa sampai hari ini bukan hanya pasal-pasal, teori, atau teknik menyusun perjanjian.

Saya membawa cara berpikir.

Saya membawa nilai.

Saya membawa semangat untuk bermanfaat.

Dan saya membawa keyakinan bahwa seseorang tidak harus pergi jauh untuk menjadi berguna.

Kita bisa berdaya di negeri sendiri.

Bahkan, kalau memungkinkan, kita bisa membangun sesuatu di kampung halaman sendiri, membuka lapangan pekerjaan, memberdayakan orang lain, dan berusaha menjalankan semuanya dengan cara yang amanah.

Jadi kalau suatu hari ada yang bertanya:

“Gelar S2-nya kok nggak dipakai?”

Mungkin jawaban saya sederhana:

“Dipakai. Hanya saja, gelarnya tidak selalu terlihat dari pekerjaan saya. Yang saya pakai setiap hari adalah cara berpikir, nilai, dan pelajaran yang saya dapatkan selama menempuh pendidikan.”

Karena pada akhirnya, pendidikan bukan hanya tentang gelar yang kita sandang, tetapi tentang apa yang menjadi diri kita setelah gelar itu kita dapatkan.

Sunday, September 22, 2019

Untuk Anda yang Sakit Psikosomatis dan Gangguan Cemas


Psikosomatis dan gangguan cemas merupakan gangguan kejiwaan. Kenyataan Ini harus diterima oleh orang yang diuji dengan penyakit tersebut. Menerima sepenuhnya bahwa penyakit psikosomatis dan gangguan cemas yang diderita merupakan gangguan kejiwaan adalah hal yang penting untuk dilakukan karena merupakan tahap paling awal dalam proses penyembuhan penyakit tersebut. Apabila Anda adalah orang yang terkena penyakit tersebut dan sedang membaca ini, terimalah bahwa Anda sedang terkena penyakit kejiwaan dan penerimaan adalah hal yang positif.
Penyakit psikosomatis dan gangguan cemas bukanlah masalah yang sepele. Sebagian orang mengatakan bahwa penyakit ini biasa saja, banyak-banyak istirahat nanti juga sembuh. Ini adalah pernyataan yang keliru, penyakit psikosomatis dan Psikosomatis adalah penyakit yang besar, ia memerlukan penanganan khusus dan proses penyembuhan yang tidak sebentar. Bukan bermaksud untuk membuat Anda menjadi pesimis, namun agar Anda sadar bahwa hidup ini harus lebih santai dan tidak perlu terburu-buru mengejar hal-hal yang bersifat duniawi. Rezeki setiap makhluk sudah ditanggung oleh Allah. Mulai saat ini dan seterusnya, anda harus lebih santai, tidak perlu ngoyo mengejar dunia. Mulai saat ini, yang menjadi fokus anda adalah amal ibadah Anda serta kesehatan jiwa dan pikiran Anda.
Bersyukurlah Allah ta'ala memberi Anda penyakit psikosomatis dan gangguan cemas. Mengapa? Ada banyak alasan, diantaranya:
1.      Akal anda masih selamat, andai saja penyakit kejiwaan ini lebih jauh lagi, bisa jadi anda hilang akal dan tidak kenal diri sendiri lagi. Na’udzubillah.
2.      Ujian dari Allah seperti ditimpa penyakit, apabila dilalui dengan sabar maka akan mendapatkan pahala tanpa batas. Allah subhanahu wa ta'ala berfiman:
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
Artinya: “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas”. (QS.Az-Zumar:10)
Minta dan berharaplah kepada Allahl agar Anda diberi pahala yang besar dengan bersabarnya Anda menghadapi ujian ini. Katakanlah: “Ya Allah, aku meminta kepadamu pahala yang sangat besar karena aku bersabar melalui penyakit yang berat ini.”
3.      Ini adalah teguran dari Allahl dikarenakan dosa-dosa Anda. Manusia memang makhluk yang banyak sekali bermaksiat kepada Allah. Akuilah hal tersebut kepada Allah. Mungkin selama ini Anda jauh dari Allah, mengabaikan Allah dan mencari ridho manusia, sehingga tersibukkan dengan urusan dunia dan lalai dari beribadah kepada Allah.
4.      Mengigatkan akan kematian. Ketika seseorang mengalami psikosomatis dan gangguan cemas, ia akan meninggalkan terlalu memikirkan dunia, dengan kondisi tersebut seyogyanya ia akan ingat bahwa hidup ini hanya sementara dan yang abadi adalah negeri akhirat. Ia bahkan menjadi tidak mengutamakan dunia, dan ini adalah sifat orang-orang yang zuhud. Oleh karena itu, ketika sembuh kelak InsyaAllah, diharapkan mengingat kematian dan tidak mengutamakan dunia tetap menjadi kebiasaan dirinya.
5.      Dari pengalaman pahit ini anda akan belajar banyak mengenai kesalahan-kesalahan anda mengelola diri di masa lalu, dengan sembuhnya Anda atas izin Allah dari penyakit ini, maka InsyaAllah Anda akan menjadi pribadi yang lebih kuat.
Janganlah anda berputus asa dari rahmat Allah, yaitu berupa kesembuhan. Sebagian orang yang terkena penyakit psikosomatis dan gangguan cemas berputus asa, melakukan hal-hal yang diharamkan Allah bahkan melakukan bunuh diri. Na’udzubillah. Orang islam tidak pernah berputus asa dari rahmat Allah, karena berputus asa dari rahmat Allah adalah sifat orang kafir. Ingatlah Firman Allah:
إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ
Artinya: Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir." (QS.Yusuf:87)
Allah lebih tahu apa yang terbaik untuk anda. Ingatlah manusia itu pada dasarnya adalah bodoh dihadapan Allah. Anda tidak mengetahui, mungkin menurut Anda yang terbaik adalah Anda tidak sakit, akan tetapi Allah Yang Maha Mengetahui berhendak menakdirkan anda sakit. Allah Maha Berkuasa atas segala sesuatu dan Allah Maha Bijaksana. Berbaiksangkalah kepada Allah, sesungguhnya setiap takdir Allah mengandung hikmah yang besar, walaupun anda tidak mengetahui atau belum mengetahui hikmah tersebut.
Diuji dengan penyakit adalah tanda bahwa Allah menyayangi Anda. Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِىَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ
Artinya: “Sesungguhnya pahala besar karena balasan untuk ujian yang berat. Sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian untuk mereka. Barangsiapa yang ridho, maka ia yang akan meraih ridho Allah. Barangsiapa siapa yang tidak suka, maka Allah pun akan murka.” (HR.Ibnu Majah No.4031, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani).[1]
Diujinya seorang hamba dengan penyakit belum tentu bahwa Allah membencinya. Bukankah Nabi Ayyubq diuji oleh Allah dengan penyakit dalam jangka waktu yang lama? Apakah itu berarti Allah Tabaaraka Wa Ta'ala membenci nabi Ayyubq ? Tentu saja jawabannya adalah tidak. Tidak demikian. Nabi Ayyub tetap bersabar, maka Allah memuji kesabaran nabi Ayyub dan Allah pun ridho terhadapnya. Rasulullah ﷺ bersabda:
أشد الناس بلاء الأنبياء, ثم الصالحون, ثم الأمثل فالأمثل
“Manusia yang paling berat cobaannya adalah para Nabi, kemudian orang-orang shalih, kemudian yang semisal mereka dan yang semisalnya” (HR. Ahmad, 3/78, dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 995).
Allah mencintai hamba-Nya melebihi cinta seorang ibu kepada anaknya. Yakinlah bahwa Anda adalah hamba Allah, dan husnuzhonlah bahwa ujian ini tanda cinta Allah kepada Anda. Dalam Hadits Qudsi, Rasulullah ﷺ bersabda:
يَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى : أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي
Artinya: “Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai persangkaan hamba-Ku.” (HR. Bukhari, no. 6970 dan Muslim, no. 2675)
Oleh karena itu, husnuzhonlah Anda bahwa Allah ta’ala menimpakan penyakit ini karena Ia mencintai Anda. Ujian yang menimpa orang-orang yang Allah cintai, itu dalam rangka menghapuskan dosanya, mengangkat derajatnya serta mengajarkannya suatu hikmah dan ilmu yang mana akan bermanfaat bagi kehidupannya baik di dunia maupun di akhirat. sehingga mereka menjadi teladan bagi yang lainnya.[2]
Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Suci dari sifat lupa, Ia tidak lupa pada hamba-Nya. Allah adalah Ar-Raqiib, Allah maha mengawasi semua perbuatan dan keadaan manusia, tidak ada sesuatupun yang luput dari Allah. Allah juga mengetahui apa yang ada di hati Anda serta apa yang terbersit dalam pikiran Anda.
إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ
Artinya: “Allah mengetahui segala isi hati.”  (QS.Ali ‘Imran:119)
Allah mengetahui semua ketakutan di hati Anda, Allah mengetahui semua kegelisahan Anda, Allah mengetahui perasaan seperti tertutupnya hati dan pikiran Anda, Allah mengetahui perasaan tidak nyaman pada diri Anda, Allah mengetahui sesaknya dada Anda, bahkan Allah mengetahui bisikan-bisikan jiwa yang terjadi pada diri Anda.
Mungkin Anda akan berkata “Jika Allah mengetahui semua itu, mengapa Ia tidak sembuhkan saja aku sekarang?” Saudaraku, semoga Allah merahmatimu, fakta bahwa Allah mengetahui semua yang Anda alami itu, tidak melazimkan bahwa Allah harus menyembuhkan penyakit kita secara seketika dan sekejap mata. Anda harus berobat, melakukan terapi dan mencari sebab kesembuhan Anda. Nabi Ayyub tidak mengatakan “Ya Allah, kenapa engkau timpakan aku penyakit ini, padahal aku seorang nabi”. Itulah ujian yang Allah berikan kepada hamba-Nya. Allah berfirman:
أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ
Artinya: “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS.Al-Ankabut:2) Selanjutnya, Allah berfirman:
وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ
Artinya: “Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS.Al-Ankabut:3)
Ketahuilah, bahwasanya penyakit ini merupakan ujian bagi keimanan. Janganlah Anda ujub pada diri sendiri dan merasa paling beriman. Janganlah Anda merasa kuat dan mengandalkan diri sendiri. Allah telah mengatakan bahwa manusia adalah makhluk yang lemah. Oleh karena itu akuilah bahwa Anda adalah makhluk yang lemah dan hanya Allah yang mampu menguatkan Anda. Kalau bukan karena Allah yang menguatkan kita selama ini, pasti kita tidak akan mampu menghadapi setiap permasalahan kita.
Psikosomatis dan gangguan cemas mengisyaratkan bahwa Anda belum mengamalkan agama islam dengan benar. Orang yang mengamalkan islam dengan benar tidak mungkin terkena penyakit psikosomatis dan gangguan cemas. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً
Artinya: “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.” (QS.An-Nahl:97). Dalam ayat ini Allah mengatakan barangsiapa yang mengerjakan amal shaleh. Mengerjakan amal shaleh berarti mengamalkan agama islam dengan benar. Istilah Amal Shaleh janganlah dipahami hanya sebatas shalat, puasa, membaca Al-Quran, zakat, sedeqah, dan haji saja. Itu semua termasuk amal shaleh, akan tetapi amal shaleh tidak hanya itu, terutama berkaitan dengan amalan hati.
Mungkin Anda sudah mempelajari agama islam baik secara online maupun tatap muka, akan tetapi Anda belum mengamalkan apa yang anda pelajari. Mindset yang benar, ilmu hanyalah sebagai wasilah/perantara untuk beramal dan bukan tujuan utama kita. Ilmu agama dipelajari untuk diamalkan, bukan sekedar wawasan agar dipandang sebagai orang yang berilmu.
Bisa jadi anda belajar agama pada tempat yang salah, sehingga bukan mempelajari islam akan tetapi kesesatan yang dibungkus dengan simbol islam, contohnya filsafat-filsafat sesat, melakukan meditasi atau semacamnya yang sama sekali tidak diajarkan dalam islam, semoga kita terhindar darinya. Sudahkah Anda mempelajari bagaimana seorang muslim mengelola diri dan jiwanya? Sumber-sumber ilmu di zaman sekarang sudah sangat banyak. Tinggal kita yang harus menyempatkan diri untuk mempelajarinya.
Semoga penyakit ini menjadi pelajaran berharga bagi anda semua yang terkena penyakit psikosomatis dan gangguan cemas agar menjadi hamba Allah yang lebih baik daripada sebelumnya. Syafaakumullah syifaa-an laa yughoodiru saqoman.














 Muhammad Hanivan
22 September 2019
  





[1] https://rumaysho.com/3131-ujian-dan-musibah-tanda-allah-cinta.html
[2] https://muslim.or.id/32540-jika-allah-mencintai-seorang-hamba-ia-akan-diuji.html


Wednesday, November 22, 2017

Tadabbur Sejenak



Jika ada sebuah istana yang megah dan mewah, mulai dari pintu-pintunya, jendela-jendelanya, lampu-lampunya, kursi, meja, gelas, furniturenya, karpet-karpetnya, keramik-keramik lantainya, diluarnya ada taman yang indah, tanaman-tanaman berwarna warni, halamannya yang luas dan rapi.
Pertanyaannya, mungkinkah kita berfikir:
-          Istana ini pasti menciptakan dirinya sendiri
atau
-          Istana ini pasti ada tiba-tiba begitu saja
Tentu akal kita akan menolak.
Kita pastinya akan berfikir:
1-      Siapa yang membuatnya?
2-      Siapa arsiteknya?
3-      Punya siapa?
Jika terhadap istana saja akal berfikir demikian, apalagi terhadap penciptaan Bumi dan segala isinya. Tentu tidak mungkin Bumi menciptakan dirinya sendiri, apalagi tiba-tiba ada begitu saja.

Menurut sains, Bumi berasal dari ledakan Big Bang yang kemudian membentuk kemudian membentuk tata surya.
Banyak sekali yang bisa direnungkan tentang Bumi.
1-      Jarak matahari dan bumi itu kurang lebih 150 juta Km. Dengan jarak segitu, suhu dibumi nyaman dan dapat ditinggali. Padahal kalau ketika ledakan big bang jarak yang terentuk bumi dan matahari itu 160 juta Km maka Bumi akan terlalu dingin untuk ditinggali, sedangkan kalau jarak yang terbentuk itu 140 juta Km maka Bumi akan terlalu panas untuk ditinggali. Apakah kebetulan? Ataukah ada yang mendesain? Siapa yang mendesain?
2-      Siapa arsiteknya yang merancang kalau setelah bumi terbentuk maka akan ada siang dan malam, yang pada malam hari, dari bumi dapat kelihatan bulan dan bintang-bintang yang indah, di Bumi dapat terjadi pelangi setelah hujan serta setiap harinya terdiri dari 24 jam.
3-      Awan itu menyimpan berkilo-kilogram air. Menurut sains rata-rata awan cumulus memiliki berat 1.1 Juta Pound alias kurang lebih 500.000 Kg. Bayangkan benda seberat itu tidak jatuh ke Bumi sementara Bumi punya gaya gravitasi. Airnya jatuh nanti tunggu hujan. Sains bisa menjelaskan kapan awan itu akan mengalami kondensasi yang kemudian menjadi hujan. Tetapi yang lebih penting, siapa yang menciptakan karakter air? 
4-      Siapa yang menentukan bahwa nanti setelah bumi tercipta maka akan ada biji-bijian, biji yang ini kalau ditanam akan menghasilkan buah yang pedas yaitu cabe, sedangkan biji yang ini kalau ditanam akan menghasilkan buah yang manis yaitu jeruk. Biji itu sendiri adalah benda yang ajaib. Biji dan kelereng adalah sama-sama benda padat berukuran kecil, tetapi biji bisa menumbuhkan tumbuhan karena didalamnya terdapat embryo. Kumpulkanlah seluruh ilmuan di dunia ini pasti tidak bisa menciptakan biji, bukan mengembangbiakkan varietas dari yang sudah ada, tetapi menciptakan biji.
5-      Siapa yang mendesain kalau setelah bumi terbentuk nanti akan ada hewan yang bermacam-macam dan beraneka ragam, bentuknya unik-unik dan ada juga yang indah. Binatang yang ini bertelur sedangkan binatang yang ini melahirkan?
6-      Kalau memang kehidupan ini menciptakan dirinya sendiri, seharusnya di venus, mars, jupiter dan lainnya ada kehidupan, misalnya entitas-entitas yang bisa hidup tanpa oksigen. Tetapi ternyata kehidupan tidak menciptakan dirinya sendiri.
Intinya jawaban dari pertanyaan “SIAPA”, ini adalah Tuhan kita, Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kita merasakan keberadaannya dengan mentadabburi ciptaan-Nya.
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِن مَّاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِن كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ
” Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (QS. Al-Baqarah : 164)

Kita beriman terhadap hal yang ghaib. Tidak benar bahwa segala sesuatu harus dapat di indera baru dipercayai. Kita sendiri tidak dapat melihat akal, akal itu ada namun tidak terlihat. Jika kepala dibelah yang ditemukan hanya otak, padahal otak juga terdapat pada hewan-hewan. 

Semua hal ini mengantarkan akal kita kepada ketundukan kepada Dzat yang Maha Mulia, yang kekuasaannya meliputi segala sesuatu. Kita harus lebih mengenalNya.

Nasihat khususnya untuk diri sendiri, supaya lebih memperhatikan “Ayat-Ayat-Nya” di Bumi.

22 November 2017
M Hanivan Maulana

Wednesday, September 6, 2017

Islam is Teaching Us How to Love Ourself



Orang yang paling mencintai dirinya sendiri adalah seorang muslim, ia tidak mau di akhirat sengsara maka ia mematuhi perintah Rabb nya.

Orang yang paling tahu cara menyayangi dirinya sendiri adalah seorang muslim, ia tidak mau hidup tidak teratur maka ia shalat tepat pada waktunya, bangun subuh kemudian bersemangat dan produktif pada pagi harinya.

Orang yang paling mencintai dirinya sendiri adalah seorang muslim, ia tidak mau hawa nafsu menguasai dirinya maka ia berpuasa baik puasa ramadhan maupun puasa sunnah, menahan diri dari makan dan minum serta segala yang diharamkan Allah.

Orang yang paling tahu cara menghargai dirinya sendiri adalah seorang muslimah, ia tidak mau dirinya menjadi fitnah bagi lak-laki maka ia menutupi auratnya dengan sempurna dan menjaga pergaulannya.

Orang yang paling mencintai dirinya sendiri adalah seorang muslim, ia tidak mau rasa tamak menjangkiti hatinya maka ia mengeluarkan zakat untuk saudaranya.

Orang yang paling tahu cara menghormati dirinya sendiri adalah seorang muslim, ketika orang saling membicarakan keburukan temannya, saling ghibah dan mencaci maki, maka ia menghindarinya atau meninggalkannya, karena ia terlalu terhormat untuk melakukan itu.

Lalu Siapakah yang membuat aturan syariat yang mulia ini, sehingga diikuti oleh muslim dan muslimah? Allah subhanahu wa ta’ala, Dia-lah yang paling mencintai hamba-Nya, Dia-lah yang ingin agar manusia hidup mulia, akan tetapi banyak dari manusia tidak menyadarinya dan malah menghinakan diri sendiri dengan melakukan hal-hal yang haram.


My Self Reminder
Depok, 6 September 2017